Indah Namun Sesaat

    Nur Syazlyana
210907500011

Kali ini akan kuceritakan sebuah kisah yang ku ambil dari adikku sendiri.

    Tanggal 25 Januari 2021,di cuaca panas pukul 10 pagi ada himbauan dari kepala sekolah untuk mengumpulkan sembako tiap kelas dan disetor ke panitia OSIS. Aku yang di arahkan untuk melakukan itu dan aku cukup kesulitan untuk melakukannya, karena kendala di kendaraan. Grup kelas pun riuh sebab tak ada satupun yang ingin menolong. Akhirnya ada seorang yang menghubungi ku. Ia dia sang baik yang menawarkan jasanya menemaniku. Semenjak saat itu namaku menjadi sebuah "keindahan kecil" karenanya. Ia yang tak aku kenal asal usul nya dan hanya sebatas nama. Sejak saat itu ku cap dia sebagai orang baik.


    Keesokan harinya, ia menghubungi ku "jalan yuk" tulisnya di 26 januri 2021. Saat itu aku berfikir bahwa kebahagiaan ku yang pernah hilang akhirnya hadir kembali. Aku jalan dengannya untuk kedua kalinya dengan perasaan masih bertanya-tanya tentang dia namun tak bisa ku tanyakan langsung. Sekotak susu dan sebungkus oreo yang jadi penenang gemetar ku saat itu hmm, sangat bahagia karena kita bercerita mulai dari hal kecil sampai hal unik menurut ku. "Aku suka kefasihan mu cantik" seketika ku kehilangan keseimbangan akibat pujiannya. Angin senja mengantar kami pulang dengan hati sangat bahagia.


    Tepat di 27 Januari 2021 malam kuresmikan hubungan mungil itu yang berlangsung sangat indah. Sejak saat itu kucari tahu tentang dia dan menurut ku Dia manusia yang dinamis, sangat berbeda dari semua yang sudah bersamaku. Ia yang dengan senyum hangatnya tiap temu, ia yang terus terang dengan semuanya, ia yang tak pernah bosan memujiku, ia yang punya cara aneh menunjukkan indahnya, dan ia yang sangat aku harapkan saat itu. Kita video call setiap hari, telponan, mengabari, dan saling rindu. "Aku bukan dilan ya, aku adalah aku yang merindukan mu" ketusnya, hmm itulah ketenangan ku saat ini. 

    Bahagiaku karena kita sekelas, sepemikiran, sejalan. Menurut ku itu hal yang ajaib dan hal yang pertama kali aku rasakan dalam hidupku. Kadang aku layaknya dijadikan ratu olehya, di anggap orang paling penting, di cari ketika tak ada kabar sampai menelfonku beberapa kali. Dia yang menggambarkan semuanya dalam bentuk lembaran baru. Menurutnya aku dan dia adalah sebuah angka 1, yang artinya tidak banyak hanya ada aku dan dia di bumi ini. Semuanya berjalan baik dan sempurna.



    Hingga suatu waktu, untuk pertama kalinya dia membuat ku kecewa karena pergi keluar kota tanpa memberi tahuku, tapi menurutku itu hal yang tidak terlalu fatal. Aku menganggap itu sebagai ujian dalam hubungan ini. Tapi sejak saat itu dia jarang mengabariku dan selalu memiliki alasan ketika ku ajak bertemu. Ia sudah tak ada waktu untuk menemui ku. Semuanya jadi berbeda di bulan Maret. Dan aku putuskan Maret adalah bulan perubahan. Karena dia yang ramah jadi hening seketika. Dia yang lucu jadi diam tak bersuara. Ia kenapa? Ada apa dengannya? Aku ada salah? Aku melakukan sesuatu yang tak dia suka? Aku harus apa?... Kepala ku penuh dengan pertanyaan itu di bulan Maret.

Hingga April. Aku berdoa semoga dia membaik.

    Beberapa waktu sebelum bulan suci ramadhan ia mulai membaik. Tetapi ia tetap tak ada waktu menemuiku saat itu.  Hingga suatu pagi ketika aku bangun kudapati pesan darinya, 3 bait kata yang disertakan maaf untukku. Tepat 18 April 2021 dia ingin pisah dengan suatu alasan yang menurutku  sudah sering dipakai ketika seseorang ingin putus dengan kekasihnya. Saat itu aku kehabisan kata-kata, tak tahu ingin jawab apa, dan tak tahu harus berbuat apa. 

    Aku larut dalam kesedihan selama 1 hari mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Barulah ku siap balas pesan pahit itu keesokan harinya. Kukirim 3 paragraf ku untuknya dan dibalas indah dengan 1 paragraf nya darinya. Namun dia masih saja baik bagiku. Aku menjalani bulan suci Ramadhan dengan doa berharap dia kembali dengan baiknya. Hingga suatu hari yakni di hari kemenangan atau yang biasa disebut Hari Raya Idhul Fitri, ia menghubungiku lagi dan meminta maaf. Sejak saat itu aku pun mulai memaafkannya. Tapi aku masih menunggunya untuk kembali!!!

    Yahh, pertemuan kembali terulang di bulan Juni ketika ku yang masih memiliki  perasaan yang sama untuknya. Saat itu semua organ di tubuhku seakan membeku dan diam saat tahu ia datang. Kaki ini dingin, kepalaku rasanya aneh, dan tak berani kubalikkan badan untuk melihatnya.  Ya dia luka itu. Luka pahit yang kusebut didalam doaku. Ia datang dengan senyum tulus nya. Aku ucapkan gagal dalam diriku, aku gagal, aku gagal, ia masih tetap baik, dan aku tidak bisa lupa. Pertemuan itu hal terumit karena dia mencariku untuk silaturahmi kembali. 

    

    Aku hidup kembali dengan harapan baru. Sekuat harap ku kukuhkan tiap hari, doa baik kusertakan di pertengahan malam untuknya, kuistimewakan dia diantara manusia. Ia ada, ia hadir kembali karena kupanggil, namun tak bisa ku ulang lagi. Aku tak tahu dia salah apa dan aku salah apa. Aku hanya mampu tersenyum sembari menyembuhkan dengan halus tanpa harus melupa. Karena dia adalah harapan ku. Kapan kah ia pulang ke rumah yang selalu membukakan pintu untuknya dengan lebar?

"Kita adalah manusia yang berpendirian, maka aku akan tetap dengan jalanku. Agar harapku terkabul tulus untuk kembali dengannnya".